5 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Merekrut ART
Lima hal yang sebaiknya Anda cek sebelum menerima ART baru, dari KTP sampai kesepakatan tertulis, supaya tidak perlu berganti pekerja berkali-kali.
Banyak cerita "ART baru seminggu sudah minta pulang" sebenarnya bisa dicegah di tahap awal. Masalahnya jarang karena pekerjanya berniat buruk. Lebih sering karena ada harapan yang tidak pernah dibicarakan, atau keputusan yang diambil terburu-buru karena rumah sudah terlalu berantakan.
Berikut lima hal yang kami sarankan untuk dicek, baik saat Anda merekrut sendiri maupun lewat agen penyalur.
1. Identitas dan dokumen yang jelas
Cocokkan KTP dengan orang yang datang, termasuk foto dan tanggal lahirnya. Catat alamat asal dan nomor keluarga yang bisa dihubungi bila ada keadaan darurat. Untuk pekerja yang akan menginap, menjaga anak, atau mendampingi lansia, sebagian keluarga juga meminta surat keterangan sehat atau SKCK.
Simpan fotokopi atau foto dokumennya, tetapi jangan menahan dokumen asli. KTP, ijazah, dan buku tabungan tetap milik pekerja. Menahannya justru membuat hubungan kerja dimulai dengan rasa tidak percaya.
2. Pengalaman dan referensi kerja
Pertanyaan "sudah pernah kerja?" kurang membantu. Tanyakan detailnya. Berapa lama di tempat sebelumnya, ada berapa orang di rumah itu, apa saja pekerjaan hariannya, dan kenapa berhenti. Cerita yang runtut dan masuk akal biasanya pertanda baik.
Kalau bisa, telepon majikan sebelumnya. Tanyakan hal praktis seperti ketepatan waktu, kejujuran soal uang belanja, dan cara ia menangani masalah. Pengalaman yang sedikit belum tentu buruk. ART yang baru pertama kali bekerja bisa berkembang bagus kalau ia mau belajar.
Cara paling jujur untuk melihat kemampuan adalah melihatnya langsung. Minta calon ART memasak satu menu sederhana atau menyetrika beberapa kemeja. Sepakati juga apakah ada masa percobaan, berapa lama, dan apa yang akan dinilai di akhirnya.
3. Tugas, jam kerja, dan skema kerja
Ketidakcocokan sering muncul karena kedua pihak membayangkan pekerjaan yang berbeda. Sebelum memutuskan, bicarakan secara konkret:
- tugas utamanya, misalnya bersih-bersih, mencuci, memasak, atau juga menjaga anak
- jam mulai, jam selesai, dan waktu istirahat
- hari libur, termasuk rencana cuti dan pulang kampung saat Lebaran
- skemanya menginap (live-in) atau pulang-pergi (non live-in)
Kalau Anda juga butuh bantuan menjaga anak, katakan dari awal. ART yang merangkap momong anak biasanya digaji lebih tinggi dari ART reguler, dan itu wajar.
4. Sikap dan kecocokan dengan keluarga
Keterampilan bisa diajarkan, sikap jauh lebih sulit. Saat wawancara, perhatikan cara calon ART menjawab, bukan hanya isi jawabannya. Coba ajukan situasi nyata, misalnya "Mbak, kalau anak saya jatuh dari sepeda waktu saya di kantor, apa yang Mbak lakukan?"
Ajak pasangan atau orang tua yang tinggal serumah ikut bertemu. Bahas juga hal kecil yang sering terlupa, seperti waktu salat, pantangan makanan, atau takut pada anjing dan kucing. Hal seperti ini jauh lebih mudah dibicarakan sebelum mulai bekerja daripada sesudahnya.
5. Kesepakatan tertulis
Kesepakatan lisan mudah terlupa dan mudah ditafsirkan berbeda. Tulis saja dengan sederhana, satu atau dua halaman sudah cukup. Isinya gaji dan tanggal gajian, jam kerja, hari libur, fasilitas (kamar, makan, perlengkapan), dan cara mengakhiri kerja sama bila salah satu pihak ingin berhenti.
Sebagai gambaran, gaji ART live-in di Jabodetabek umumnya Rp2,5–3,5 juta per bulan, dan sekitar Rp3–4 juta bila juga momong anak. Angka ini hanya referensi, jadi sesuaikan dengan pengalaman, beban kerja, dan lokasi Anda.
Tanda yang perlu ditanyakan lebih lanjut
Beberapa hal patut membuat Anda bertanya lebih jauh sebelum memutuskan:
- calon pekerja enggan menunjukkan KTP asli, atau datanya tidak cocok
- cerita pengalaman kerjanya berubah ketika ditanya ulang
- meminta pinjaman besar sebelum mulai bekerja
- menolak membuat kesepakatan tertulis
Tidak semuanya berarti niat buruk. Bisa jadi ada alasan yang masuk akal, jadi tanyakan baik-baik.
Kalau rumah Anda memakai CCTV, sampaikan terus terang sejak awal. Jangan pasang kamera di kamar pekerja atau kamar mandi, karena privasi mereka juga perlu dihormati.
Beri waktu untuk adaptasi
Dua sampai tiga minggu pertama adalah masa saling menyesuaikan. Tunjukkan cara kerja yang Anda inginkan, sabar dengan kesalahan kecil, dan sisihkan sepuluh menit setiap beberapa hari untuk mengobrol santai tentang apa yang sudah berjalan dan apa yang belum.
Daftar tugas tertulis sangat membantu, misalnya jadwal ganti seprai atau membersihkan kulkas. Tempel juga di dapur hal-hal yang penting bagi keluarga Anda, seperti barang yang tidak boleh dipindah, makanan yang tidak boleh diberikan ke anak, dan nomor yang harus ditelepon saat darurat.
Kalau tidak sempat menyaring sendiri
Agen penyalur bisa menghemat waktu Anda. Di AgenPembantu.com, kandidat sudah melewati wawancara, pengecekan dokumen identitas, dan screening sesuai posisi, lalu Anda tetap mewawancarai sendiri sebelum memilih. Perjanjian kerja dibuat langsung antara Anda dan pekerja, dan ada garansi replacement 1× dalam 90 hari sesuai syarat dan ketentuan.
Mau dibantu mencarikan? Isi formulir Cari Pekerja atau baca dulu tentang layanan Asisten Rumah Tangga kami.